Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 1 Menunggu Dikirim Tuhan
Di Indonesia menikah masih menjadi hal yang selalu dipertanyakan dalam fase kehidupan orang dewasa. Setelah bekerja, maka pertanyaan menikah di usia di atas 1/4 abad akan semakin gencar. Bahkan bisa membangun spekulasi sendiri jika yang sudah hampir kepala tiga belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mengarah ke sebuah pernikahan.
Meski sekarang frekuensi usia menikah perempuan sudah mulai di atas 28 bahkan 30 tahun sudah mulai banyak, tetap saja tidak menghilangkan pertanyaan kapan menikah. Apa lagi jika lingkaran pertemanan yang dimiliki sudah memiliki hubungan pernikahan.
Jadilah gundah gulana menunggu jodoh itu menjadi hal yang tak bisa lepas bagi perempuan. Menunggu ada laki-laki yang datang dan menyatakan keseriusannya atau menunggu laki-laki yang ada di dekatnya menyatakan kesiapan untuk segera lanjut ke jenjang pernikahan.
Menunggu jodoh itu seperti hal yang harus dilakukan saat usia telah memasuki 25 tahun. Padahal ada banyak hal yang bisa dilakukan dan bikin bahagia ketimbang menunggu jodoh.
Lantas, tak bisa pula dipungkiri setiap orang tentu memiliki keinginan pernikahan yang bahagia dengan orang yang dicintai dan juga mencintainya. Setiap perempuan yang akhirnya memutuskan untuk menikah pasti telah merangkai kisah-kisah indah di kepalanya untuk apa-apa yang akan dijalaninya ke depan dengan laki-laki pilihannya dan tentu yang memilih dirinya.
Tara yang sedang menunggu jodohnya darang terus diguyur pertanyaan kapan menikah oleh ibunya. Dia adalah anak kedua dari tiga bersaudara. Abangnya sudah menikah di usia 28 tahun dan kehidupan pernikahannya terbilang sempurna, iya kakak iparnya Fina beruntung mendapatkan suami seperti Raka. Suami yang juga menjadi kriteria Tara, tapi sampai sekarang belum ia temukan. Sementara adiknya Tara, sudah memiliki calon untuk serius, mereka bahkan sudah pacaran sejak SMA dan hubungannya sejauh ini aman tentram tanpa ada pertengkaran yang serius.
"Kak, sudah ada belum calonnya?" tanya adiknya, Nala.
"Nanyain mulu ih." Tara kesal.
"Iya-iyalah kak, tahun ini lo kakak udah masuk 28 tahun. Bang Raka di umur segitu sudah menikah kak. Kakak mau aku salip emangnya?" Nala tertawa.
"Iya gak papa kalau kamu dan Tio emang berjodoh. Gak harus menunggu kakak kok."
"Kakak, ya gak gitu maksud aku kaaaaaak." Nala meluk Tara.
"Aku beneran lo gak papa."
"Kakak, akukan pengen lihat kakak punya seseorang dalam hidup kakak. Emangnya gak pengen ya? Tanya Nala.
"Pengen sih, tapi....."
"Tapi apa kakak?"
"Ah, sudah ah. Ganti topik saja. Gemana skripsinya?"
"Tuh kan, selalu ngalihin topik. Ya sudah ah, aku kamar dulu ya. Mau nelpon Tio."
"Dasar bucin." Ledek Tara
Pertanyaan kapan menikah sudah menjadi buah bibir bagi perempuan yang sudah berusia lebih dari 1/4 abad. Entah harus bagaimana, pertanyaan itu jelas sangat mengganggu. Belum lagi kalau disertai embel-embel, si anu temanmu sudah menikah atau si anu temanmu malah sudah punya anak. Kesal sekali jika sudah ada bahasan lanjut. Pengen banget rasanya pergi dari hadapan orang yang banyak tanya, lantas bagaimana bisa pergi kalau orang itu justru adalah ibu.
Kalau dibilang pengen punya cucu, ibu sudah merasakan adanya cucu dari abangnya Tara. Alasan ibunya terus menanyakan kapan menikah pasti karena tidak tahan mendengar cibiran orang sekitar yang hampir setiap saat sampai rasanya Tara hapal bagaimana intonasinya.
Saat ini Tara sedang bekerja di sebuah perusahaan swasta. Pekerjaannya tidak berat tetapi cukup membosankan karena jobdesknya yang itu-itu saja. Belum lagi aktivitas ibu kota yang tak pernah lepas dari kemacetan. Setiap hari dimulai sebelum matahari terbit dan usai tanpa melihat matahari terbenam.
Tara jenuh dengan semua rutinitas. Rasanya ingin berhenti dan menemukan sesuatu yang baru. Tetapi berhenti dari pekerjaan dan akhirnya harus stay di rumah lebih tak kuasa untuk dihadapi.
Hari-hari yang monoton,itu-itu saja. Bukan tak ingin membuka lembaran baru untuk yang namanya cinta, tapi Tara sedang muak. Muak menghadapi janji pernikahan yang diberikan laki-laki lalu mereka menghilang atau bahkan menjadi pecundang.
Sebelum menjalani hari-hari dengan rutinitas yang monoton, Tara pernah menggebu dengan asmara. Lantas berulang kali patah. Patah yang paling menyakitkan ialah saat telah mengusahakan segalanya, lantas keadaan memaksanya harus berhenti.
Laki-laki yang dibayangkannya menemani menikmati senja dengan secangkir kopi bersama puisi. Laki-laki yang tanpa bicara dia bisa membaca semua maunya. Cara bicara yang selalu mampu membuat tawa pecah. Bukan ketampanannya yang membuat Tara jatuh cinta karena memang dia tidak setampan Refal Hady. Bukan gombalannya yang membuat terbuai, tapi keapaadaannya yang membuat Tara melihat kejujuran dalam cintanya.
Perjuangan paling lama yang dilakukan dengan harapan akan berujung pada hari bahagia hidup bersama. 2 tahun yang diperjuangkan ternyata berakir pilu. Tara selalu mendukung setiap hal yang akan dipersiapkan untuk hari esok. Mensuport laki-laki itu untuk melewati jenjang karir. Bahkan tanpa berpikir panjang ia berikan tabungannya untuk membantu, sebegitu berkorbannya Tara untuk waktu yang rasanya sudah amat dekat bagi hubungannya.
Laki-laki yang sering ditanyai ibu kapan akan datang? Laki-laki yang diyakini Tara akan menjumpai ibu dan ayah untuk berbicara tentang masa depan. Setiap hari Tara menjawab dengan penuh keyakinan waktunya akan tiba dan keberanian memberikan janji kepada kedua orangtuanya.
Bait puisi bergantian mengisi hari dua sejoli ini. Berbalas senja yang ranum dengan jarak ribuan km. Begitu manis rasanya kisah cinta itu. Lantas kemanisan itu menjadi sesuatu yang begitu membakar saat dihadapkan dengan kenyataan pahit. Sesuatu yang bahkan tak pernah terlintas di benak. Tara yang begitu naif atau matanya yang buta.
Semua hancur. Kehancuran yang begitu memilukan. Hari di mana dia menghilang. Hari di mana tak ada kabar darinya. Semua tanda tanya bertebaran di benak Tara. Tanpa balasan satu hurufpun, sampai akhirnya bom itu tiba dan menghancurkan segala angan yang dibangun bersama. Pesan singkat dari seorang perempuan yang memfollow instagram Tara.
"Kami akan menikah, dia sudah tidak bisa lagi denganmu." Satu kalimat yang membuat Tara kelabakan. Terlebih saat membuka satu foto yang ikut dikirimkan. Foto hasil USG dengan keterangan janin berusia 6 minggu.
Dada Tara terasa sesak mengingat hari itu. Hari di mana kali pertama dalam hidup saat makan pun air matanya jatuh berderai. Begitu menyakitkan. Bukan tentang semata pengkhianatan yang dilakukannya, Tara merasa sangat hancur karena keyakinannya yang salah.
Bisa-bisanya perasaannya selama ini menutupi akal sehat dan naif akan segala risiko buruk dengan hubungan jarak jauh yang dijalani. Betapa naifnya Tara yang selalu yakin kesetiaan akan berbalas kesetiaan padahal tak ada hitam di atas putih. Tara yang terlalu larut dengan segala janji buta.
Sudah dua tahun berlalu, Tara sudah memaafkannya. Lantas tak mudah untuknya membuka hati dan memulai sebuah hubungan. Mungkin bukan soal tidak ingin, tapi tentang jodoh yang memang belum datang dikirim Tuhan.
Jalan yang paling tenang ialah menunggu kiriman jodoh dari Tuhan. Sebab, Tuhan pasti tak pernah salah orang dan waktu.
#spektakuler #penuliskeren #spektakulervol3 #eventnovel #teorikatapublishing
Komentar
Posting Komentar