Lumpur dan Air Mata: Kondisi Ekologis yang Guncang Sumatera


Bencana Sumatera yang terjadi di 3 Provinsi sekaligus menyisakan duka yang tak dapat diungkap dengan kata-kata. Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang terjadi secara bersamaan. 

Dalam satu hari saja orang yang meninggal meningkat 100 orang jumlahnya. Data BNPB saat 1 Desember tercatat di angka 604 orang meninggal dunia, naik menjadi 712 di 3 provinsi korban meninggal dunia. 

Rincian data per 2 Desember yaitu: 

  1. Korban meninggal 712 orang.
  2. Korban hilang 507 orang.
  3. Korban terluka 2.564 orang.
  4. Jumlah terdampak 3,3 juta.
  5. Korban mengungsi 1,1 juta.

Ketiga provinsi ini pun mendeklarasikan status tanggap darurat yang akan berlangsung hingga;

  1. Aceh hingga 11 Desember
  2. Sumatra Utara hingga 10 Desember 
  3. Sumatra Barat hingga 8 Desember

Tentu terjadinya bencana ini memunculkan tanda tanya yang besar karena banjir yang terjadi tak hanya membawa material batu dan lumpur tetapi juga potongan kayu besar yang menumpuk di berbagai titik.

Ironinya kalau dilihat kasat mata banjir yang terjadi didominasi dengan lumpur. Mungkin persentasenya bisa 50:50 antara air dan lumpur. Ini terlihat saat air banjir surut, lumpur menumpuk di jalan-jalan, pun di rumah-rumah masyarakat. 

Perlu kerja keras yang sangat luar biasa untuk membersihkan tumpukan lumpur. Gotong royong massal pun dilakukan untuk membersihkan lumpur yang mengendap pasca banjir, bahkan ada yang mencapai bagian betis. Apalagi daerah yang terkena galodo. 

Banyaknya orang yang hilang pun salah satunya karena tertimbun lumpur dan material kayu. Sulit menemukan jenazah. Keterbatasan bantuan dalam bencana ini membuat para relawan menggunakan teknik manual dengan mengendus bau mayat. 

Sebuah cara yang memerlukan keberanian dan kekuatan mental. Kayu dimasukkan ke dalam tanah berlumpur lalu diendus, jika ada aroma bau mayat barulah dibongkar bagian tanah itu untuk menemukannya.

Di tengah duka yang dialami para korban bencana alam, masyarakat meminta untuk ditetapkan sebagai bencana nasional. Namun, pemerintah pusat masih belum menetapkan status tersebut. 

Pergerakan pemerintah dinilai lambat untuk mengevakuasi dan memberikan pertolongan kepada para korban. Kekesalan pun semakin memuncak dengan berbagai pernyataan dari para pejabat tinggi yang sangat tidak bijaksana. 

Bencana alam yang terjadi di tiga provinsi ini menurut Manajer Kampanye Hutan dan Kebun WALHI Nasional Uli Arta Siagian dengan analisisnya menyebutkan tak semata karena cuaca ekstrem tetapi juga kondisi ekologis yang sudah rentan.

WALHI menyampaikan sejak 2016 hingga 2024, ketiga provinsi ini sudah kehilangan sekitar 1,4 juta hektare hutan. Sebuah akibat dari alih fungsi lahan yang ugal-ugalan. Hal ini tentu perlu dilakukan evaluasi perizinan perusahaan yang ada di tiga titik bencana alam. 

Salah satunya lokasi yang sangat signifikan berpengaruh dalam bencana alam yaitu Pegunungan Bukit Barisan. Diduga hulu-hulu dari DAS yang meluap ini ada di Pegunungan Bukit Barisan. Perlu tindakan tegas sebagai upaya pencegahan bencana yang lebih parah lagi di kemudian hari. 

Data Kementerian ESDM yang diolah JATAM menunjukkan wilayah Sumatra telah dikorbankan sebagai zona untuk tambang minerba. 

Terdapat sedikitnya 1.907 wilayah izin usaha pertambangan minerba aktif dengan total luas 2.458.469,09 hektare. Itu baru izin untuk tambang saja, belum sawit, dan berbagai alih fungsi lahan lainnya. 

Terjadinya hujan ekstrem sejak 23 hingga 25 November 2025 yang disebabkan oleh siklon langka, Siklon Senyar, yang terjadi di sekitar Selat Malaka, menurut peneliti dari Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, hal itu lah yang menyebabkan sungai-sungai meluap dan lereng perbukitan runtuh.

Lalu adanya kerusakan ekosistem hutan di hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), membuat daya dukung dan daya tampung ekosistem hulu tidak mampu untuk meredam curah hujan tinggi.

Risiko ini harusnya diperhitungkan saat dilakukannya alih fungsi lahan secara ugal-ugalan. Di mana hilangnya tutupan hutan secara signifikan menghilangkan fungsi hutan sebagai pengendali daur air yang akhirnya menyebabkan erosi masif dan longsor, hingga terjadi banjir bandang.

Padahal daerah hulu DAS memiliki peran vital sebagai penyangga hidrologis. Kondisi ekologis dengan vegetasi hutan rimbun yang perannya sangat penting sebagai spons raksasa untuk menyerap air hujan ke dalam tanah dan menahannya agar tidak langsung terbuang ke sungai.

Volume air yang besar dari hujan yang berhari-hari membuat sungai tak mampu menampung, dan bendungan alami ikut jebol, inilah yang menyebabkan terjadinya banjir bandang. 

Alam tentu tidak menyalahi aturannya, manusialah yang serakah menelanjangi alam tanpa batas. Keserakahan membuat manusia hanya mengikuti hasrat dunia tanpa berpikir bahwa segala yang dilakukan di atas bumi tentu akan memanen hasilnya.

Oknum yang begitu buas membuat masyarakat yang menanggung akibatnya. Ribuan anak-anak yang harus kehilangan orang tuanya. Anak-anak yang tak berdosa harus tertimbun di dalam lumpur. Ribuan orang mengalami trauma karena bencana alam ini. Sementara oknum yang berbuat tetap bisa tidur nyenyak tanpa rasa bersalah.

Ribuan air mata akan bersaksi betapa kejamnya kekuasaan memporak-porandakan segalanya.


#banjirsumatera #bencanasumatera #bencanalongsor 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serunya Series Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 2 Bertemu Teman Lama

Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 1 Menunggu Dikirim Tuhan