Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 2 Bertemu Teman Lama
Selain kerja, ada agenda yang sering dilakukan setiap satu bulan sekali. Bertemu dengan teman lama. Bukan geng, gak tahu juga ini masuk kategori sahabatan atau gak, tapi emang mereka sudah berteman sejak zaman kuliah. Pertemuan sekali sebulan itu diagendakan di dalam grup yang berisikan 5 orang.
Bukan agenda arisan juga, cuma bertemu di cafe atau tempat makan, ngobrol, ada yang curhat juga, ketawa-ketawa, foto, dan pulang. Buat Tara pertemuan sekali sebulan ini seperti sebuah agenda untuk bisa memetik hikmah dari apa apa yang dijalani di dalam hidup.
Kali ini mereka bertemu di Resto Ramen, di salah satu Mall di Jakarta. Pertemuan yang dijanjikan jam 4 sore itu, berkumpul seluruhnya di jam 5 sore, seperti menjadi hal yang lumrah untuk janji temu di Jakarta. Kemacetan akhir pekan tentu sudah saling dipahami. Ada saja hal-hal yang tidak terprediksi.
Dari berlima, termasuk Tara. Hari ini cuma ada 4 orang. Lala tidak datang karena anaknya tiba-tiba demam dan tentu tak bisa ditinggal kemana-mana. Tara seperti biasa datang nomor dua setelah Sinta dengan dua anaknya.
Sinta selalu datang lebih dulu, karena weekend adalah hari bersama anaknya. Jadi, dia sudah keluar dari pagi dengan anak-anaknya. Ajak mereka ke Playground dulu, baru setelah itu makan bersama kami. Dua anak laki-laki dengan jarak dua tahun. Sinta working mom yang cekatan sekali mengurus anak-anak.
Berhubung anaknya juga sudah sekolah keduanya, jadi Sinta tidak menggunakan pengasuh anaknya. Cuma ada ART sekali seminggu yang datang ke rumah buat beres-beres rumah. Pekerjaannya sebagai banking tentu tidak membuatnya sempat untuk mengerjakan pekerjaan rumah dengan optimal dan weekend adalah harinya dia bersama anak.
Suaminya tak pernah keberatan dengan agenda sekali sebulan. Sebab, suaminya juga super sibuk. Sering sekali keluar kota dengan pekerjaannya, seorang pemilik perusahaan alias penerus kekayaan orangtuanya.
Setelah Tara, orang ketiga yang datang adalah Nia. Nia ibu rumah tangga yang resign sejak menikah. Nia datang bersama anak perempuannya dan tentunya diantar oleh suami tercinta. Suaminya tak pernah mengizinkan Nia pergi sendiri, pasti diantar dan dijemput. Walau kadang kelamaan menunggu jemputan suaminya.
Suaminya karyawan BUMN yang kadang di hari Sabtu pun ada kerjaan entah lembur atau apalah. Kadang pertemuan. Jadi, seringnya sambil mengantar Nia, suaminya juga pergi dengan keperluan sendiri.
Dan orang terakir yang datang kali ini adalah Diana. Diana sama dengan Tara, belum menikah. Hidupnya woles banget karena ibunya ialah single parents yang tak pernah bertanya kapan dia akan menikah. Beruntung dibandingkan Tara yang selalu dikejar pertanyaan kapan menikah.
Tak ada tema warna baju khusus, mereka bebas ingin memakai baju apa saja. Pertemuan bukan soal warna baju yang sama, pertemuan itu isinya daging bukan dari pakaian yang matching.
"Gila ya, hampir saja tadi di parkiran gue nyerempet mobil orang." Celetuk Diana yang baru saja datang belum juga sempat duduk.
"Kenapa, lu. Datang-datang ngomel." Tanya Sinta.
"Iya, tadi ada om-om resek banget. Klakson-klakson pas gue lagi nyari parkiran. Baru ke mall kali ya tu orang." Sambung Diana.
"Udah ah Di, jangan ngomel mulu. Pesan gih, entar kelamaan pesanan kamu datangnya." Kata Tara.
Makan sambil ngobrol haha..hihi... dan berbagai cerita di lingkungan masing-masing. Berhubung bisa dibilang sekarang circle kami berbeda-beda. Tara dan Diana memang sama-sama single. Tapi Diana yang kerja di perfilman punya dunia yang lebih bebas dan gak kaku seperti Tara.
"Eh, kalian tau gak. Selebgram yang hits itu, diselingkuhin pacarnya. Padahal ya tu cowoknya juga gak tajir, gak ganteng, tapi gak ada otaknya." Ketus Diana.
"Selingkuh sama siapa emang?" Tanya Nia.
"Katanya sih CLBK sama mantannya sebelum selebgram ini."
"Alah, Di. Gak usah heran. Orang berumahtangga aja bisa selingkuh apa lagi cuma pacaran." Jawab Sinta.
"Iyasih, banyak juga gua dengar yang begituan. Apa kebanyakan laki-laki itu toxic ya?" Tanya Diana.
"Bisa jadi." Jawab Tara spontan.
"Kencang banget responnya, masih belum move on ya." Ledek Nia.
"Dih, bukan gitu. Aku sudah lama move on kali. Aku kan bilangnya bisa jadi ya." Jawab Tara tertawa.
"Terus kamu lagi dekat sama siapa sekarang, Tar? Mau aku kenalin gak sama teman-teman kantorku. Banyak yang masih single. Mapan lagi." Tawar Sinta.
"Tajir melintir kaya suami kamu, ada gak?" Tanya Tara sambil tertawa.
"Kalau itu mah sulit ya, Sin." Timpa Nia sambil tertawa.
"Kalau ada yang setajir suaminya Sinta, gue juga mau dong." Diana menambah.
Mereka pun tertawa bersama. Suami Sinta memang jadi idola di antara mereka. Sudah tajir, cakep, friendly, perfect deh pokoknya buat yang melihat dari luar. Tapi Sintalah yang tahu bagaimana suaminya.
"Gak semua yang terlihat baik itu, sempurna lo ya." Kata Sinta tersenyum. "Aku malah pengen dibucinin kayak Nia gini, kemana-mana diantarin." Jelas Sinta.
"Suami lo sibuk banget ya Sin?" Tanya Diana.
"Ya, gitu deh." Jawab Sinta singkat.
"Emangnya suami lo ada di rumah itu kapan, Sin?" Tanya Diana lagi.
"Kapan ya, gak nentu juga. Pastinya dalam sebulan paling cuma 3/4 kali yang memang kita interaksi, kita dalam artian aku dan anak-anak ya. Kalau aku dengan dia aja sih, ya adalah dua kali lipat itu. Cuma ya sekadar sapa sebelum tidur doang. Lagian aku kan juga kerja ya. Jadi, sudah capek juga." Jelas Sinta.
Makanan tak terasa habis terlahap, tinggal minuman yang diseruput. Bahkan sudah beberapa kali repeat order camilan. Anak-anaknya Sinta sibuk dengan gadgetnya. Sementara anak Nia masih usia dua tahun sudah ketiduran di strollernya dengan anteng.
Cerita-cerita mereka yang sudah menikah bikin Tara makin mikir mau mencari suami seperti apa. Laki-laki seperti apa yang Tara butuhkan. Laki-laki dengan rutinitas bagaimana yang sanggup untuk menerima dan menjalani hidup bersamanya nanti.
Setiap perempuan tentu maunya menikah hanya sekali dan menjalaninya dengan bahagia dalam hubungan saling mencintai.
"Buset, sudah mau jam 9 gila. Gue cabut ya." Kata Diana.
"Ada shooting lu?" Tanya Sinta.
"Ada meeting proyek baru. Gue duluan ya besti." Kata Diana sambil cipika cipiki ke semuanya.
"Hati-hati lu, jangan sampai nyerempet lagi." Ledek Sinta. Mereka tertawa.
"Kamu dijemput jam berapa, Nia?" Tanya Tara.
"Tadi sih aku bilangnya jam 9. Belum ada kabar dianya OTW nih." Jawab Nia.
"Ya udah, Nia. Santai aja. Tara bisa kok nemenin kamu. Ya kan, Tar." Kata Sinta senyum-senyum.
"Aman, aku kan disini yang gak dikejar-kejar waktu." Jawab Tara.
Tak lama setelah Diana balik, Sinta juga pamit dengan dua jagoannya yang sudah mulai mengantuk. Tara menunggu Nia sampai dijemput suaminya, syukurnya kali ini tak sampai pintu mall tutup. Nia tak pernah marah sekalipun suaminya lama menjemput. Tara menilai Nia sosok istri yang super sabar. Wajar saja kalau dia betah jadi ibu rumah tangga.
Malam itu Tara dengan sepeda motor yang dibelinya dari hasil menabung gaji selama satu tahun kerja, menyusuri perlahan-lahan jalanan menuju rumahnya. Tak ada sepinya, makin malam justru semakin ramai. Orang-orang mencari kesenangan dengan caranya sendiri-sendiri.
Apa lagi yang dicari dalam hidup kalau tidak menemukan jalan bahagia. Setiap orang punya caranya sendiri untuk menemukan bahagia itu.
#spektakuler #penuliskeren #spektakulervol3 #eventnovel #teorikatapublishing #mimpiperempuanyangmenikah

Komentar
Posting Komentar