Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab3 Canda Tawa Di akhir Pekan

Canda Tawa di Akhir Pekan

Weekend ini di akhir bulan agenda kumpul keluarga, agenda yang memang sering dilakukan apa lagi sejak ayah Tara meninggal setahun yang lalu.

Meninggalnya ayah membuatnya kehilangan sosok untuk menjadi tempat bermanja, meski sebenarnya dari kecil Tara bukan anak yang manja. Ayah berhasil menjadi cinta pertama yang tak terlupakan bagi Tara, ayahnya selalu menanyakan, bahkan tanpa diceritakan apa pun mampu memahami perasaan Tara.

Masih ingat benar saat Tara patah hati, ayahlah yang mengatakan bahwa itu adalah pertolongan Allah. Keterbukaan semuanya sebelum hubungan semakin jauh menyelamatkan Tara dari laki-laki yang tidak takut akan dosa.

" Tidak perlu berduka terlalu lama, Nak," kata ayah pada Tara.

Ayah meninggal begitu cepat, tanpa ada sakit, pergi begitu saja. Orang baik memang selalu dipanggil Allah lebih cepat. Ayah, laki-laki setia yang sangat menyayangi ibunya . Tara gak pernah mendengar ibu menceritakan hal buruk apa pun tentang ayahnya. Mereka pernah tidak sependapat, tapi ayah selalu tenang menangani situasi.

Kepergian ayah juga yang membuat Tara selalu ingin menemani ibu. Tara tahu ibu sering merasa kesepian sendirian di rumah, meski ibu tak pernah menunjukannya. Aktivitas ibu memang banyak, ada pengajian, arisan, bahkan ibu juga belakangan ikut kelas senam lansia yang diadakan tiap dua minggu sekali. Selain itu, ibu juga suka sekali mengikuti berbagai agenda pengajian yang diadakan ustadz ternama. Lokasi yang paling sering itu di Mesjid Blok M.

Tara pernah tanya dengan ibu, apakah dia tak ingin menikah lagi untuk mencari teman hidup.

"Ibu hanya ingin menikah sekali dan ia tak ingin menggantikan kenangan bersama ayah dengan orang baru." Ibu penuh keyakinan mengungkapkannya.

Ibu memang sangat mencintai ayah, mereka padahal tidak pacaran yang lama banget, cuma dikenalin keluarga, lalu gak lama menikah. Ya, begitulah orang zaman dahulu. Mana ada yang pacaran seperti orang kredit rumah bertahun-tahun lalu berujung bubar.

"Assalamualaikum..," suara Fina dari luar sambil mengetuk pintu.

"Waalaikumsalam," jawab ibu menyambut.

"Jadi kak bawa duriannya?" tanya Nala nyosor ke luar.

"Kakaknya datang itu disambut dong, Nak. Bukan malah langsung nanya durian." Goda ibu.

"Iyakan ini nyambut ya Kak ya. Sini Kak dibawain." Nala menawarkan bantuan.

"Sana bantuin Abangmu, masih di mobil duriannya." Nala pun berjalan ke mobil menghampirin abangnya.

Terasa sekali nikmatnya makan durian dengan ketan yang dibikin ibu. Meski sudah lama merantau ke Jakarta, selera ibu tetang minang sekali. Makan durian dengan ketan (pulut kalau orang minang menyebutnya. pulut itu ketan yang dimasak dengan santan.)

"Nal, Tio gak jadi datang?"

"Katanya sih jadi, belum ada kabar lagi," jawaban Nala berbarengan dengan ketukan pintu.

"Nah, itu kayaknya deh. Panjang umur." Nala pun berlari membukakan pintu.

"Permisi, assalamualaikum, maaf ya Tio terlambat." Sapa Tio ke semua orang.

"Santai Tio," jawab Raka.

"Mas Raka tu sudah gak sabar mau turnamen catur dengan Kamu, nungguin Dia itu dari tadi." Jelas Fina.

Tio memang sudah disambut baik oleh keluarga Tara. Bahkan Nala juga sudah sering ikutan ke acara keluarganya Tio. Ibu suka, almarhum ayah juga suka dengan Tio. Anaknya ramah, jawa sekali, orangtuanya sih di Solo. Tapi sering berkunjung ke sini karena kakaknya Tio tinggal disini. Mereka hanya berdua bersaudara.

Sepengetahuan Tara Tio memang baik, belum pernah ada cerita yang gemana gemana dari Nala. Palingan cuma berantem biasa kalau Tio lupa bilang dia gak bisa jemput Nala.

Meski satu kampus tapi aktivitas mereka tidak sama karena beda tingkatan dan beda jurusan. Nala jurusan ilmu komunikasi dan Tio hukum yang lagi lanjut S2 sudah di semester akhir. Mereka bakalan sama sama wisuda tahun ini. Perencanaan hubungan mereka dari ceritanya Nala mateng banget. Nala memang setipe dengan ibu yang kalau sudah satu ya setia aja gitu. Gak mau gonta ganti.

Tara sih setia juga tapi yang ada pembicaraan serius ya baru dengan yang terakhir dan sad ending. 

Tara memang gak pernah berencana menikah muda ya karena pernikahan memang gak perlu buru-buru.

Senang sekali melihat suasana ini. Bang Raka dengan Tio keseruan bermain caturnya. Tara dan Nala kebagian main dengan ponakan yang lucu-lucu. Ibu dan Kak Fina seru dengan obrolan mertua dan menantu. Kak Fina beruntung banget dapat mertua kayak ibu yang gak pernah mau ikut campur urusan rumahtangga anaknya. Ibu pernah bilang katanya anak yang sudah menikah itu berhak punya privacy bagaimana ia mengurus rumah tangganya.

Padahal ibu sama mertuanya gak akur banget, biasa aja gitu. Ibu sih gak cerita banyak, tapi kata ibu mertuanya bukanlah mertua impian. Sejak kepergian ayah, hubungan ibu dengan keluarga ayah juga bisa terbilang renggang. Mertuanya sih sudah gak ada, meninggal waktu Tara SMA. Tapi ibu dengan iparnya juga hanya hubungan seadanya. Itulah kenapa ada agenda kumpul ini. Ibu ingin semuanya terasa dekat karena orang yang paling dekat dengan kita adalah keluarga.

Bang Raka sama Kak Fina juga gak pernah dipaksa ibu menginap, kalau kak Fina lagi mau ya dia menginap kalau gak ya pulang. Ibu pun tak pernah memaksa. Itulah kenapa kak Fina merasa nyaman di sini, kadang dia mau tinggal di sini saat ditinggal dinas bang Raka.

"Eh, Tar..kemarin Kakak gak sengaja ketemu sama Lala di RS."

"Oh, ya. Dia bawa anaknya yang sakitkan Kak," jawab Tara yakin seperti yang dibilang Lala.

"Anaknya? Kak gak lihat anaknya sih Tar, tapi kakak lihat Lala bareng perempuan yang lagi hamil gitu." Jelas Kak Fina.

"Perempuan hamil? Siapa ya kak, setahuku teman Lala ya kami doang. Gak tahu deh kalau ada teman baru, Lala gak pernah cerita."

"Emangnya Lala gak punya saudara perempuan? Soalnya dia manggilnya mba gitu ke Lala. Kakak sempat tanya siapa, Lala jawab adiknya. Tapi gak sempat ngobrol banyak karena Kakak juga buru-buru nebusin obat mama." Cerita kak Fina.

"Gak kak. Dia anak perempuan satu satunya. Besok coba kutanya deh Kak, penasaran." Jawab Tara.

Setelah makan malam semua berpamitan. Aku kepikiran dengan yang dibilang kak Fina. Lala dengan siapa ya. Emang belakangan Lala juga jarang respon obrolan di grup, biasanya lala selalu nimbrung meski pun telat-telat. Lala memang tertutup sih, gak terlalu yang gemana-gemana kalau cerita soal keluarganya. Mungkin karena dia sudah hijrah jadi penting sekali untuk menjaga apa apa yang tidak perlu dibagikan ke khalayak.

Kalau Tara tiba tiba mengirim pesan WA tanpa basa basi ke Lala rasanya tidak pas, takutnya tersinggung. Ditambah lagi jam segini sudah larut. Ditutupnya WA dan bersiap untuk tidur. Mulai dengan membersihkan kasur. Pakai skin care meski pun kulit gak mau glowing glowing banget tapi perlu dilakukan rutin sebagai bentuk rasa cinta atas diri sendiri. Merawat diri bisa menjadi sebuah solusi untuk mendapatkan rasa bahagia.

"Selamat malam, Tara." Bisik Tara membatin. 

#spektakuler #penuliskeren #spektakulervol3 #eventnovel #teorikatapublishing

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serunya Series Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Lumpur dan Air Mata: Kondisi Ekologis yang Guncang Sumatera

Resensi Film Bismillah Kunikahi Suamimu