Matahati Menyeluk Bencana Sumatera

sumber foto: zakatsukses

Awal tahun 2026 menjadi garis awal yang berbeda bagi saudara sesama muslim kita di wilayah terdampak bencana alam Sumatera. Data terbaru BNPB pada 6 Januari 2026 telah mencatat korban meninggal 1178 orang dari 53 Kabupaten / Kota di 3 Provinsi yang ada di Sumatera. Angka yang cukup banyak untuk sebuah bencana banjir dan longsor. Bisa jadi jumlah sebenarnya korban yang meninggal jauh lebih banyak tapi tidak terdata atau tidak teridentifikasi karena tak ditemukannya identitas. 

Bencana alam yang terjadi tentu saja menjadi luka bersama bagi kita. Korban yang mengalaminya berjuang keras melawan rasa takut atas trauma yang dialami. Kita melihat banyak video yang beredar di malam bencana mulai terjadi. Saat air naik hingga ke lantai dua rumah dan menenggelamkan banyak rumah. Suara yang saut-sautan meminta pertolongan membuat bulu kuduk merinding. Dari korban mengatakan bahwa suara-suara itu bergema di tengah genangan air setiap malam dan hilang satu persatu esok harinya, tanpa tahu apakah mereka selamat atau sudah tiada. 

Kehidupan adalah tempatnya ujian. Bencana ini menjadi ujian kesabaran bagi para korban untuk melaluinya. Berjuang bertahan hidup dan menghadapi kehilangan orang tersayang pun harta benda. Bencana juga menjadi ujian bagi kita yang melihatnya. Bagaimana kita berempati untuk menolong sesama dengan memanfaatkan harta benda kita di jalan Allah. Bersedekah dengan memberikan berbagai bantuan kepada para korban. 

Ada banyak sekali yang membuka donasi dan kita bisa memilih mana yang disanggupi. Kalau pun ternyata tak mampu bersedekah dengan harta, kita bisa mengirimkan doa. Doa yang tulus untuk mereka yang tertimpa musibah semoga diberikan kesabaran dan ketabahan melaluinya dengan tetap berada di jalan Allah.

Apapun yang terjadi di atas bumi ini tentu karena izin Allah. Sekalipun amarah menggebu karena kesimpulan atas bencana alam yang terjadi di Sumatera ini akibat dari keserakahan manusia, tetaplah semua atas kehendak Allah. Kita sedang ditunjukkan tentang bagaimana keserakahan dapat merusak banyak hal dan menyakiti banyak orang. Keserakahan akan membuat bumi yang indah menjadi porak-poranda.

Lewat bencana alam ini pula kita diingatkan bahwa segala yang dimiliki di dunia tidaklah abadi. Semua bisa hilang dalam satu malam, lalu apa yang harus disombongkan? Harta kekayaan hanyalah titipan Allah. Orang yang kita sayangi bisa pergi kapan saja jika ajalnya sudah tiba. 

Pada akhirnya imanlah yang akan menyelamatkan kita dalam rasa sakit untuk terus berhusnudzon kepada Allah. Tidak ada yang akan dijemput ajal sampai ia mendapatkan semua jatah rezekinya.

Banyak kita lihat berbagai perkataan tidak baik bertebaran di media sosial, menghakimi sesuatu seolah dirinya tanpa dosa, padahal siapa kita yang bisa melabeli seseorang dengan begitu keji. Bukankah sebaiknya kita mendoakan semoga pintu hidayah sampai pada orang-orang yang menjadi penyebab bencana alam ini sehingga perbaikan dan perubahan bisa terjadi di kemudian hari. 

Bagaimanapun perkataan yang tidak pada tempatnya bukanlah cerminan dari seorang muslim yang percaya akan qada dan qadar dari Allah. 

Kerusakan 175.126 rumah akibat bencana alam di Sumatera ini mengingatkan kita bahwa sebenarnya rumah bukanlah bangunan, tapi tempat di mana kita bisa selalu merasa pulang, tempat di mana kita bisa tetap sujud dan meminta pertolongan Allah. Fisik rumah yang lenyap tak akan membuat kita kehilangan semangat hidup jika memahami letak rumah yang sebenarnya dalam hidup.

Semoga bencana alam yang terjadi di Sumatera menjadi tempat kita untuk bisa bermuhasabah atas hidup di dunia ini untuk apa dan akan ditutup dengan amalan di dunia yang seperti apa. Ajal tidak menunggumu siap, maka teruslah persiapkan dirimu. 


#bencanasumatera #berbagimotivasi #indonesiapeduli


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serunya Series Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 2 Bertemu Teman Lama

Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 1 Menunggu Dikirim Tuhan