Stop Saingan! Setiap Ibu Punya Medan Perangnya Sendiri, Yuk Saling Gandeng
Di momen ini, beberapa IRT bersyukur
atas pilihannya karena bisa membersamai anak-anak sehingga tidak perlu
mengambil risiko anak mengalami kekerasan. Tapi, rasa syukur ini ramai-ramai
diserang dengan para working mom dan mengatakan kalau IRT pickmee, bersyukur
pada waktu yang tidak tepat.
Seorang ibu bukanlah satu-satunya yang berkewajiban dalam
pengasuhan anak, lantas setiap kali ada yang terjadi dengan anak, ibu lah yang
pertama kali disudutkan. Ke mana peran ayah? Kenapa ayah tidak ditanyakan
keberadaannya saat terjadi sesuatu dengan anak?
Apa karena ayah mencari nafkah? Bukankah para ibu yang
bekerja juga 50% nya karena membantu finansial keluarga yang tidak bisa terpenuhi
oleh penghasilan ayah? Lalu kenapa ibu yang bekerja masih saja disudutkan Ketika
sudah secara tidak langsung juga membantu peran ayah dalam mencari nafkah? Data
dari BPS pada tahun 2004 sebanyak 14,37% pekerja perempuan di Indonesia
berperan sebagai female
breadwinners, perempuan pencari nafkah utama yang artinya di dalam rumah
tangga istri memiliki pekerjaan tetap sementara suaminya tidak.
Pertentangan antara IRT dan working mom memang selalu terjadi.
Ada perempuan yang bahagia bisa memberikan anak waktu dengan cara sederhana
memenuhi keinginan anak. Ada pula perempuan yang bahagia jika bisa memberikan atau
membelikan sesuatu yang diinginkan anak. Setiap perempuan sebenarnya sedang
berjalan dari pengalamannya masa kecilnya dalam menjalani
hidup. Alam bawah sadar akan memilih jalan dari pola pengasuhan yang pernah
diterima seorang ibu. Sebuah fakta yang tidak pernah dikulik.
Sederhananya, seorang ibu yang memilih menjadi IRT
sedikit banyaknya karena ia memiliki pengalaman materi terpenuhi tetapi tidak
mendapatkan waktu, perhatian, dan kehadiran seorang ibu secara utuh. Sebaliknya,
seorang ibu yang memilih menjadi working mom sedikit banyaknya karena ia
memiliki pengalaman sosok ibu hadir tetapi tidak terpenuhi secara materi
sehingga ia merasakan betapa sulitnya masa kecilnya.
Tanpa perlu dielakkan saat menjadi orang tua kita membawa
luka masing-masing di dalam pengasuhan. Iya, saat menjadi orang tua ialah jalan
kita untuk menyembuhkan diri dan memutus rantai trauma itu.
Selain itu, keputusan akan menjadi IRT atau working mom dipengaruhi oleh ekonomi dan pilihan personal. Bagaimana situasi ekonomi dalam rumah tangga dan peran seorang suami dalam memenuhi nafkah dan menjadi provider sangatlah mempengaruhi. Kemudian dipengaruhi oleh pilihan personal.
Semua ibu berjuang di zonanya masing-masing, dalam situasi
rumah tangga yang berbeda-beda pula. Keduanya hanya beda seragam tetapi sama-sama
sedang berperang. Keduanya sama-sama memiliki musuh yaitu rasa bersalah. Sudah
saatnya sesama ibu menyadari kalau tidak sedang
berlomba ibu mana yang paling hebat, tetapi sudah waktunya kita women support
women. Pakai kalimat yang seharusnya keluar dari bibir yaitu, “Aku mengerti
rasanya jadi kamu, kamu keren sudah bertahan.” Terima dan akui kalau
setiap pilihan ada risikonya, tidak ada yang sempurna. Itulah cara paling bijak
untuk kita bisa saling memahami sesama perempuan.
Kalau pun ada ego yang tersentil atas pernyataan
personal, mungkin itu jalan untuk mengevaluasi dan bermuhasabah atas apa yang
menjadi pilihan. Pastikan bahwa pilihan yang dijalani saat ini atas keinginanmu
dan membuatmu bahagia sebagai seorang ibu.

Komentar
Posting Komentar