Stop Saingan! Setiap Ibu Punya Medan Perangnya Sendiri, Yuk Saling Gandeng

 


Berita yang terjadi tentang daycare dan kecelakaan kereta api membuat kehebohan di dunia maya. Lagi-lagi pihak yang paling disudutkan ialah perempuan. Daycare memunculkan perang dingin antara IRT dan working mom. Padahal permasalahannya ada pada system daycarenya tapi lagi-lagi permasalahan jadi mengambang dan salah sasaran. Kenapa bisa terjadi aktivitas tidak menyenangkan di dalam daycare yang sudah bertahun-tahun beroperasi ini? Permasalahan inti ini terkesan terlupakan.  

Di momen ini, beberapa IRT bersyukur atas pilihannya karena bisa membersamai anak-anak sehingga tidak perlu mengambil risiko anak mengalami kekerasan. Tapi, rasa syukur ini ramai-ramai diserang dengan para working mom dan mengatakan kalau IRT pickmee, bersyukur pada waktu yang tidak tepat.

Seorang ibu bukanlah satu-satunya yang berkewajiban dalam pengasuhan anak, lantas setiap kali ada yang terjadi dengan anak, ibu lah yang pertama kali disudutkan. Ke mana peran ayah? Kenapa ayah tidak ditanyakan keberadaannya saat terjadi sesuatu dengan anak?

Apa karena ayah mencari nafkah? Bukankah para ibu yang bekerja juga 50% nya karena membantu finansial keluarga yang tidak bisa terpenuhi oleh penghasilan ayah? Lalu kenapa ibu yang bekerja masih saja disudutkan Ketika sudah secara tidak langsung juga membantu peran ayah dalam mencari nafkah? Data dari BPS pada tahun 2004 sebanyak 14,37% pekerja perempuan di Indonesia berperan sebagai female breadwinners, perempuan pencari nafkah utama yang artinya di dalam rumah tangga istri memiliki pekerjaan tetap sementara suaminya tidak.

Pertentangan antara IRT dan working mom memang selalu terjadi. Ada perempuan yang bahagia bisa memberikan anak waktu dengan cara sederhana memenuhi keinginan anak. Ada pula perempuan yang bahagia jika bisa memberikan atau membelikan sesuatu yang diinginkan anak. Setiap perempuan sebenarnya sedang berjalan dari pengalamannya masa kecilnya dalam menjalani hidup. Alam bawah sadar akan memilih jalan dari pola pengasuhan yang pernah diterima seorang ibu. Sebuah fakta yang tidak pernah dikulik.

Sederhananya, seorang ibu yang memilih menjadi IRT sedikit banyaknya karena ia memiliki pengalaman materi terpenuhi tetapi tidak mendapatkan waktu, perhatian, dan kehadiran seorang ibu secara utuh. Sebaliknya, seorang ibu yang memilih menjadi working mom sedikit banyaknya karena ia memiliki pengalaman sosok ibu hadir tetapi tidak terpenuhi secara materi sehingga ia merasakan betapa sulitnya masa kecilnya.

Tanpa perlu dielakkan saat menjadi orang tua kita membawa luka masing-masing di dalam pengasuhan. Iya, saat menjadi orang tua ialah jalan kita untuk menyembuhkan diri dan memutus rantai trauma itu.

Selain itu, keputusan akan menjadi IRT atau working mom dipengaruhi oleh ekonomi dan pilihan personal. Bagaimana situasi ekonomi dalam rumah tangga dan peran seorang suami dalam memenuhi nafkah dan menjadi provider sangatlah mempengaruhi. Kemudian dipengaruhi oleh pilihan personal.

Semua ibu berjuang di zonanya masing-masing, dalam situasi rumah tangga yang berbeda-beda pula. Keduanya hanya beda seragam tetapi sama-sama sedang berperang. Keduanya sama-sama memiliki musuh yaitu rasa bersalah. Sudah saatnya sesama ibu menyadari kalau tidak sedang berlomba ibu mana yang paling hebat, tetapi sudah waktunya kita women support women. Pakai kalimat yang seharusnya keluar dari bibir yaitu, “Aku mengerti rasanya jadi kamu, kamu keren sudah bertahan.” Terima dan akui kalau setiap pilihan ada risikonya, tidak ada yang sempurna. Itulah cara paling bijak untuk kita bisa saling memahami sesama perempuan.

Kalau pun ada ego yang tersentil atas pernyataan personal, mungkin itu jalan untuk mengevaluasi dan bermuhasabah atas apa yang menjadi pilihan. Pastikan bahwa pilihan yang dijalani saat ini atas keinginanmu dan membuatmu bahagia sebagai seorang ibu.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serunya Series Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 2 Bertemu Teman Lama

Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 1 Menunggu Dikirim Tuhan