Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 4 Menghadapi Mimpi Buruk Pernikahan

Tak ada yang ingin gagal menjalani pernikahan. Semua perempuan ingin mendapatkan pernikahan impiannya. Hidup tenang dengan suami dan anak tercinta. Tak ada keributan atau huru-hara. Semua berisi canda tawa setiap pagi di meja makan. Malam di tutup dengan pelukan hangat. Sayangnya itu tak selalu terjadi dalam realita pernikahan. Ada saja ujian yang datang. Bahkan sering kali ujian yang tiba tak pernah terpikirkan bak mimpi buruk yang ingin diakhiri. 

"Maafin aku, Bun," pinta Rio ke Lala sambil berlutut. 
"Sejak kapan kamu menikahinya?" 
"Sudah hampir setahun."

Remuk sekali hati Lala saat harus menerima kenyataan dirinya dipoligami. Rara perempuan yang memang mandiri sekali, profesinya sebagai dosen di kampus membuat ia punya wawasan luas dan selalu update berbagai info terbaru. Suaminya Rio lupa kalau Lala punya banyak kenalan di mana-mana. Rio seorang arsitek yang kerjaannya sering ke luar kota. 

"Jangan bilang kalian menikah saat kamu ada kerjaan di Bandung?"
"Iya saat aku pamit bilang ada kerjaan di Bandung."
"Ya Allah. Aku salah apa sih, yah? Ap kurangnya aku sampai kamu harus menikah lagi?"
"Kamu gak kurang apa pun, akunya yang gak tahu diri."
"Setelah kamu menikah diam-diam, terus buat apa sekarang kamu ngomongin ini ke aku?"
"Aku butuh bantuan kamu, Bun. Rani sedang hamil dan aku tak bisa meninggalkan dia sendirian terlalu sering tapi aku juga gak bisa ninggalin kamu."
"Orang tuanya tak bisa diajak kerja sama? Tolong jagain calon cucu pertamanya gitu."
"Orang tua Rani, ibunya sudah lama meninggal. Ayahnya ada tapi sudah tua sekali."

Suaminya yang menikah tapi Lala yang harus membereskan permasalahannya. Hatinya yang remuk harus mendapatkan luka yang dalam. 

"Terus kamu mau minta tolong apa?"
"Tolong bolehin Rani tinggal di sini. Aku mohon. Kantorku ada aturan tidak boleh poligami. Aku dan Rani juga menikah siri. Situasimya rumit. Aku janji cuma sampai Rani lahiran saja."

Seorang istri yang baru saja tahu dia dikhianati harus menerima madunya di rumah sendiri dalam keadaan hamil. Lala berpikir reputasinya juga dipertaruhkan jika ada yang sampai tahu kalau suaminya menikah lagi. 

"Aku sudah mengarang cerita saat ada yang melihatmu di Bandung. Perempuan itu aku bilang adikmu. Aku tidak mau apa yang kamu lakukan ini berdampak ke karirku. Dia boleh ke sini dengan syarat."
"Apa syaratnya?"
"Dia harus mengaku sebagai adikmu selama di sini."
"Baiklah."
"Termasuk ke ART di rumah ini dan juga ke Caca. Aku tidak mau ada masalah apa pun selama tinggal di sini nantinya."
"Baiklah."

Kadang kenyataan yang gila harus dihadapi dengan kegilaan juga. Tak ada yang bisa menembak bagaimana jalannya takdir. Lala yang dihadapkan dengan situasi luar biasa ini harus menerimanya dengan sangat bijaksana. Siapa yang sangka setelah 3 bulan Rani tinggal bersama mereka, Lala justru menjadi simpati. Lala anak semata wayang, ia tak pernah punya adik. Orang tuanya super sibuk karena ibunya juga dulu seorang dosen bahkan Profesor. Ayahnya mewarisi usaha keluarga, ada 3 Villa dan resto yang dikelola. 

"Hari ini kamu ada jadwal USG kan, Ran?"
"Iya, Mba."
"Mas Rio lagi gak bisa nemenin, aku temenin ya."
"Beneran Mba? Gak papa Mba, saya sendiri saja."
"Gak apa-apa. Saya free hari ini."

Lala menjadi luluh karena emang Rani tak pernah berusaha mengambil posisinya. Rani tak pernah menunjukkan kalau ia berhasil merebut Cintanya Rio. Bahkan saat pertama kali datang ke rumah, Rani meminta maaf. 

"RS Pertama Bundakan, ya?" tanya Lala saat di perjalanan. 
"Iya, Mba." 

Terputar lagu Raisa-Ternyata tanpamu. Lala dan Rani sama-sama. Hapal lagunya. Tak sengaja mereka sama-sama mendengungkan lagunya. Saling lirikan satu sama lain. 

"Mba, aku minta maaf ya sudah hadir di kehidupan kalian. Aku benar-benar tidak tahu kalau Mas Rio itu punya istri."
"Sudah berlalu Ran, mungkin inilah takdir hidup yang harus aku terima. Kamu kenapa mau diajak nikah sirih?
"Aku terlanjur bucin, Mba. Ayahku punya penyakit jantung, kalau dia tahu fakta Mas Rio ternyata punya istri, aku takut ayah kenapa-napa. Cuma ayah yang aku punya."
"Iya, hidup kadang memaksa kita untuk tetap berjalan dengan baik-baik saja sekalipun badai lagi kencang-kencangnya. Dihadapkan pada situasi tak bisa mundur atau menghindar."
"Mba cantik, mandiri, kenapa memilih bertahan dengan situasi ini?"
"Karena saya mencintai hidup saya dan Caca. Caca masih butuh sosok ayahnya. Dia gak boleh terluka."

Langit cerah siang itu menyadarkan Rani bahwa ia telah bertemu dengan perempuan sekuat Lala. Sosok yang semakin ia kagumi. Tak hanya soal kebesaran hatinya tetap juga kekuatannya menerima kenyataan yang jelas amat menyakiti. 

"Ibu dan bayinya sehat, cuma ini BBJ masih kecil. Ibu harap makan lebih banyak makanan bergizi ya, kurangi konsumsi makanan dan minuman manis," jelas SPOG saat USG. 
"Iya dok."
"Bapaknya calon bayi tidak ikut, Bu?"
"Lagi ada kerjaan dok, saya ditemani sama Budenya calon bayi." Lala tersenyum. 

Setelah dari rumah sakit, Lala mengajak Rani berhenti di sebuah rumah makan Padang. Meski Lala orang Tanggerang, tapi ia suka masakan Padang karena Rio.
"Kamu mau makan apa?" tanya Lala. 
"Ayam balado saja Mba."
"Bentar ya, kamu duduk saja duluan."

Dua gelas es jeruk tiba di meja mereka. Lala makan dengan santai sekali. Kerupuk kulit disiram kuah dua porsi habis dalam sekejap. 

"Mas Rio itu suka banget dengan kerupuk kulit ini."
"Ini restoran favorite Mas, Mba?"
"Iya, kami suka kesini kalau weekend. Cuma belakangan sudah jarang sejak jadwal ngajarin jadi padat dan aku juga sambil riset."
"Pantesan."
"Kenapa?"
"Selama di Bandung, Mas Rio suka nyari kerupuk kulit ini di Rumah Makan Padang." Lala tersenyum. 
"Mba, aku ikhlas kok kalau setelah lahiran berpisah dengan Mas Rio." Lala tersedak mendengar Rani tiba-tiba bicara begitu. 
"Kenapa kamu bilang begitu?"
"Aku merasa bersalah banget Mba, Mba Lala orangnya baik banget. Tak seharusnya aku merusak kebahagiaan kalian."
"Sudah takdirnya, Ran. Kadang hidup tak memberikan kita pilihan untuk menghindar dari apa yang menyakiti. Boleh jadi apa yang menyakiti itu ternyata yang lebih baik buat kita. Allah yang lebih paham itu."
"Mba, terimakasih ya." Mata Nisa berkaca-kaca. 
"Fokus dengan kesehatan kamu dan bayi saja, Ran."
"Iya, Mba."

Dari kejauhan Tara melihat Lala. Dia baru saja sampai dan ingin bungkus makanan buat makan di kantor. Dipesannya tiga bungkus nasi Padang, lalu berjalan menuju Lala. 

"la... " Tara memegang pundak Lala. 
"Eh, kamu Tar. Sendirian?"
"Iya, La. Bungkus. Kamu sama siapa?"
"Oh, ini Rani. Kenalin." Tara dan Rani bersalaman. 
"Bentar ya Ran," kata Tara ke Rani sambil menarik Lala menjauh dari meja tempat duduk mereka. 
"Kenapa, Tar?"
"Dia yang kamu bawa buat ngecek kandungan?"
"Kok kamu tahu?"
"Kakak iparku lihat kalian. Dia siapa, La?"
"Ceritanya panjang banget. Nanti kita ketemuan buat ceritain ini ya. Jangan sekarang."
"Oke, aku juga buru-buru balik ke kantor. Next, kita atur buat jumpa ya."
"Iya." Tara meninggalkan Lala. 

Sepanjang perjalanan menuju rumah Rani dan Lala ngobrol rundom tentang masa-masa kuliah. Beda umur 5 tahun membuat mereka seperti adik kakak beneran. Kadang Tuhan punya cara sendiri untuk mengisi kekosongan di dalam diri kita. Lala anak satu-satunya yang selalu ingin punya adik perempuan, Rani anak bungsu dari tiga bersaudara tapi perempuan satu-satunya. 

#spektakuler #penuliskeren #spektakulervolume3 #eventnovel #teorikatapublishing





Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serunya Series Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Lumpur dan Air Mata: Kondisi Ekologis yang Guncang Sumatera

Resensi Film Bismillah Kunikahi Suamimu