Krisis di Balik Layar: Menyelamatkan Kesehatan Mental Remaja dan Gen Z Demi Indonesia Kuat
Gen Z merupakan generasi digital native yang aktivitasnya paling terhubung secara online. Pengaruh media sosial sangat besar bagi kehidupan Gen Z dan kelompok usia remaja. Kita tentu tak lagi asing dengan situasi hari ini yang setiap kali burnout maka waktu yang digunakan untuk melakukan scrolling media sosial akan lebih banyak. Akibatnya tentu akan menurunkan produktivitas generasi muda untuk melakukan kegiatan yang lebih positif.
Kesuksesan
Gen Z merupakan kunci utama untuk bisa mewujudkan Indonesia Kuat. Di mana
Indonesia Kuat itu bisa tercapai dengan terwujudnya Indonesia Emas yang
penduduk usia produktifnya dimulai dari usia 15 tahun sampai 64 tahun. Jiwa
yang sehat merupakan sebuah fondasi produktivitas untuk data demografi yang
baik. WHO menyatakan Gangguan kesehatan mental terutama
depresi dan kecemasan yang menyumbang
angka sebesar 13% dari beban penyakit global terjadi pada remaja usia 10 – 19
tahun.
Aktivitas
yang sia-sia akan cenderung dilakukan sebagai kebutuhan sehingga tidak memiliki
waktu yang optimal untuk menambah wawasan. Di sinilah peran pentingnya literasi
digital dan akses informasi terkait kesehatan mental. Informasi kesehatan
mental harus tersebar meluas dan dijadikan sebuah langkah taktis untuk
mendukung pembangunan Indonesia di masa depan.
Survei
I-NAMHS yang merupakan survei kesehatan mental nasional pertama yang dilakukan
pada tahun 2022, pada remaja usia 10 sampai 17 tahun di Indonesia mencatat
bahwa 1 dari 3 remaja dengan persentase 34,8% memiliki masalah kesehatan
mental. Data lainnya 1 dari 20 remaja dengan persentase 5,5% mengalami gangguan
mental dalam 12 bulan terakhir.
Dampak
negatif dari paparan media sosial yang berlebihan bisa memicu standar hidup
yang tidak realistis, bahkan bisa meningkatkan risiko kecemasan yang tidak
terkontrol. Pernyataan ini didukung degan hasil penelitian I-NAMHS yang
menunjukkan bahwa gangguan mental yang paling banyak diderita usia remaja
adalah gangguan kecemasan, gangguan depresi mayor, gangguan perilaku, dan
hiperaktivitas ADHD.
Hari
ini tanpa disadari Gen Z dan berlanjut ke Gen Alpha adalah generasi yang
konektivitasnya paling tinggi terhubung secara digital, tetapi menjadi generasi
yang paling rentan secara emosional. Ketika Gen Z dan remaja yang menjadi penopang
ekonomi Indonesia di masa depan ini kesehatan mentalnya terabaikan maka akan
berdampak pada penurunan produktivitas nasional dan meningkatnya beban medis ke
depan.
Paparan
algoritma hari ini yang sangat besar sekali dalam perkembangan masa remaja, di
mana ada budaya membandingkan diri secara terbuka bahkan tanpa batas. Lebih
mengerikan lagi media sosial menjadi acuan standar kesuksesan yang cenderung
tidak realistis. Akibatnya banyak Gen Z atau bahkan anak-anak usia remaja saat
ini yang memiliki kecemasan atas kariernya di masa depan tanpa alasan yang
jelas.
Survei Kesehatan Indonesia (SKI) Kemenkes pada
tahun 2023 menyatakan
bahwa kelompok usia 15–24 tahun (Gen Z) memiliki
prevalensi depresi tertinggi di Indonesia sebesar 2%, dan melebihi rata-rata
nasional yang hanya 1,4%. Hal ini perlu pergerakan cepat dari berbagai elemen
pemerintahan untuk memperhatikan kesehatan mental Gen Z dan kelompok usia
remaja.
Kesehatan
jiwa anak muda merupakan bagian besar dari investasi bangsa. Harapannya ke
depan tentu seluruh lapisan masyarakat memiliki kesadaran penuh atas pentingnya
kesehatan mental sehingga pemerataan masyarakat sehat secara jasmani dan rohani
bisa terwujud dengan optimal sehingga Indonesia Kuat tak hanya sekadar menjadi
cita-cita bangsa.
Usia
remaja merupakan sasaran yang paling utama untuk mendapatkan pembinaan atau
fasilitas tentang pentingnya menjaga kesehatan mental. Sebab di masa yang akan
datang usia inilah yang akan menjadi penerus bangsa sebagai orang tua yang
kemudian akan melahirkan penerusnya. Usia Gen Z hari ini tetap menjadi fokus
selanjutnya untuk menekan terjadinya lonjakan gangguan kesehatan mental di usia
produktif.
World
Health Organization (WHO)
mencatat adanya masalah kesehatan mental seperti kecemasan (anxiety) dan depresi
menyebabkan hilangnya 12 miliar hari kerja setiap tahunnya di tingkat
global. Permasalahan ini memicu penurunan produktivitas yang setara dengan
kerugian ekonomi sebesar US$ 1 triliun per tahun. Bayangkan jika
permasalahan ini terus terjadi di Indonesia berapa banyak kerugian yang akan
ditanggung di sektor ekonomi. Dampaknya tentu akan sulit untuk Indonesia
mencapai target menjadi Indonesia kuat.
Permasalahan
kesehatan mental ini bisa diatasi dengan adanya langkah konkret dan
terintegrasi dari berbagai sektor:
1.
Literasi
Digital dan Detoks Konten yang menjadi ranah Kementerian Komunikasi dan Digital
: adanya literasi digital dan detoks konten akan membentuk batasan sehat untuk
mengonsumsi konten.
2.
Kementerian
Pendidikan Dasar dan Menengah yang akan bertanggungjawab untuk memadukan
literasi digital ke dalam kurikulum sekolah formal. Materi kesehatan mental
juga bisa menjadi bagian penting yang perlu dimasukkan ke dalam kurikulum
sehingga mendukung program pembentukan karakter siswa yang lebih baik. Menyediakan
konselor di tingkat SMP dan SMA sebagai wadah pembinaan kesehatan mental.
3.
Program
Fasilitas Kesehatan Mental Terjangkau dari Dinas Kesehatan yang akan
menyediakan konseling digital gratis yang terintegrasi hingga ke tingkat
Puskesmas di seluruh Indonesia.
Ketika
Langkah konkret ini dapat berjalan maka salah satunya bisa menjadi bagian dari
ketersediaan lowongan pekerjaan bagi Sarjana dengan background psikolog secara
merata di berbagai daerah. Edukasi masif ke seluruh pelosok Indonesia akan
berdampak ke depannya terhadap strata ekonomi karena tingkat kesehatan mental
yang akan terus meningkat.
Edukasi
kesehatan mental bisa dimulai dengan informasi yang disebarluaskan di berbagai
media sosial. Konten edukasi yang menarik akan lebih berpotensi viral dan
menyentuh berbagai pengguna media sosial terutama usia remaja. Perlu adanya
keseriusan untuk menangani isu kesehatan mental ini agar tidak menjadi sebuah
penghalang besar di kemudian hari untuk mencapai Indonesia Kuat.
Kesehatan
mental yang baik akan membuat seseorang memiliki tingkat produktivitas yang
tinggi. Sejalan dengan kemampuan konsentrasi dan manajemen emosi yang baik
dalam menjalankan karirnya. Kondisi kesehatan mental yang stabil adalah fondasi
utama untuk bisa memiliki potensi, kreativitas, dan produktivitas yang optimal.
Kualitas SDM di Indonesia tentunya akan mencapai persentase terbaik jika
memiliki kesehatan mental yang stabil.
Fenomena dunia kerja saat ini, di
mana beberapa Gen Z di dunia kerja sering kali menghilang tanpa kabar atau
tidak bisa menerima kritikan. Kondisi ini menjadi bukti perlunya perhatian
khusus terkait kesehatan mental agar fenomena ini tidak semakin meluas. Mental
yang sehat membuat seseorang bisa melewati tekanan, kegagalan, atau perubahan
dinamika kerja dengan mudah. Hubungan antar sesama rekan kerja juga akan
harmonis karena adanya keseimbangan emosional yang memperkuat kecerdasan
emosional sehingga mempermudah kolaborasi, komunikasi, dan kepemimpinan. Hal
ini penting sekali untuk Gen Z dan kelompok usia remaja agar di masa depan
memiliki kepercayaan diri yang tinggi.
Pergerakan
cepat dari Pemerintah di berbagai sektor untuk permasalahan kesehatan mental
ini harus segera dilakukan dengan optimal. Isu kesehatan mental harus menjadi
topik yang tak lagi tabu. Edukasi tentang kesehatan mental harus menyeluruh
menyentuh semua lapisan masyarakat Indonesia. Tidak hanya gencar di kota besar
tetapi juga sampai ke seluruh pelosok negeri ini. Kita harus bergerak sekarang
untuk menyelamatkan kesehatan mental Gen Z dan kelompok usia remaja.
#MasyarakatSehatIndonesiaKuat
#LombaKesehatanKomdigi2026 #HUT81RI
Komentar
Posting Komentar