Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 5 Cerita Penerimaan Poligami
Aroma kopi yang mengisi cafe memberikan rasa tenang, terutama buat para pecinta kopi. Interior cafe yang minimalis bikin suasana ngopi jadi makin nikmat. Alunan musik yang sayup-sayup pun mendukung rasa tenang disetiap tegukan.
"Sumpah kamu dipoligami, La?" tanya Tara Kaget.
"Kenyataannya begitulah," jawab Lala santai.
"Asli aku gak menyangka kejadian ini terjadi sama kamu," Tara memegang tangan Lala memberikan simpatinya.
"Aku baik-baik saja sekarang. Walau di awal rasanya hancur sekali," jelas Lala dengan nada datar.
"Apa yang membuat kamu akhirnya menerima dipoligami?" tanya Tara Penasaran.
"Aku gak mau anakku kehilangan sosok ayah. Aku gak mau bertambah banyak hal yang hancur. Kalau aku sudah kehilangan rasa cinta Mas Rio, aku tidak mau kehilangan kecintaan atas profesiku sebagai dosen. Mau diletakkan di mana, kalau aku sebagai dosen kecolongan di rumah tanggaku," cerita Lala dengan nada yang mulai terdengar berat.
"Lalaaa..." ucap Tara.
"Gak ada perempuan yang ingin gagal dalam pernikahannya, Tar. Aku cuma berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan," Lala mencoba tersenyum mencegah air matanya jatuh."
"Gak papa, La. Kamu hebat. Kalau butuh teman cerita, aku ada buat kamu. Ingat itu ya!" Pinta Tara.
Kentang goreng yang gurih mampu merenyahkan suasana yang mulai menegang. Perlahan cerita beralih lebih santai dari pembahasan poligami. Tara tahu sekali, Lala berusaha amat keras untuk menjadi kuat di situasi yang sulit. Tara tahu, Lala kecewa dengan apa yang selama ini ia jaga. Popularitas Lala sebagai dosen di kampus membuat namanya dikenal bahkan mungkin menjadi figur yang ingin diidolakan banyak mahasiswa. Selain pintar, Lala juga cantik, modis, dan sangat friendly.
"Sampai ketemu lagi, ya," kata Tara sebelum mereka berpisah.
Tara mengendarai sepeda motornya perlahan. Menikmati suasana malam ibu kota. Selama di perjalanan Tara membayangkan jika ada di posisi Lala, dia gak tahu bisa menghadapinya atau tidak. Termenung di sepanjang jalan, tanpa sadar sudah tiba saja di rumah.
"Assalamualaikum..." Salam Tara sebelum memasuki rumah.
Ibunya masih belum tidur di jam 10 malam. Masih sibuk beres-beres perlengkapan katring. Sejak kepergian ayahnya, ibu Tara semakin menyibukkan diri dengan usaha katring. Tiap hari ada saja pesanan besar yang diterimanya. Kesibukan ini juga yang membuat ibunya Tara tak pernah terlihat meratapi kepergian ayahnya.
"Kenapa mukamu kayak orang punya beban hidup begitu?" tanya ibunya.
"Pernikahan itu rumit ya, Bu." Celetuk Tara.
"Iya kalau gak rumit namanya bukan pernikahan tapi permainan." Balas ibunya.
"Hmmmm." Tara manyun.
"Kenapa tiba-tiba ngomong gitu?" tanya ibu penasaran.
"Temanku ada yang dipoligami," jawab Tara singkat.
"Siapa emangnya?" Ibu makin penasaran.
"Lala Bu, temanku yang dosen. Padahal kalau dilihat dia itu hampir sempurna sebagai perempuan. Apa coba kurangnya." Tara menatap ibu menunggu jawaban yang pas menjawab pertanyaannya.
"Seorang yang akhirnya melakukan poligami atau bisa dikatakan mulai berpaling ya karena emang gak bisa menjaga komitmen. Gak ada yang salah dengan pasangannya, emang laki-lakinya saja yang tidak bisa mengendalikan diri," kata ibu tegas.
"Apa itu artinya dia tidak mencintai istrinya lagi ya, Bu?" tanya Tara penasaran.
"Soal cinta yang tahu hanyalah mereka yang memilikinya. Kita tak bisa menduga apa pun. Kalau dibilang tidak cinta, nyatanya masih dia pertahankan istri pertamanya. Lebih ke 50:50. Ya, dalam pernikahan cinta saja tidak cukup." Jelas ibu sambil menutup loker penyimpanan barang katringnya.
"Kalau cinta tidak cukup untuk membuat seseorang setia, jadi apa yang dibutuhkan, Bu?" Tara melanjutkan pertanyaannya sambil berjalan mengambil air minum.
"Komitmen setia," jawab ibu singkat sambil berjalan ke kamarnya.
"Kemana, Bu?" tanya Tara masih bingung.
"Ibu kebelet, besok kita sambung lagi obrolannya." Ibu terburu-buru jalan ke kamarnya.
Komitmen berarti bentuk tanggungjawab atas keputusan, Tara menyimpulkan. Sejenak Tara teringat dengan perkataan almarhum ayahnya yang bilang kalau dia selamat dari mantannya tu. Mungkin ini yang dimaksud ayah. Kalau mantannya tidak bisa memegang komitmen dan itu bahaya untuk dijalankan di dalam pernikahan.
Tara merebahkan badannya di atas kasur. Entah harus bersyukur belum menikah atau makin tidak ingin menikah. Lala temannya yang dia kira kehidupan pernikahannya sempurna mengalami situasi yang amat berat. Bahkan di mimpi buruk Tara tak pernah membayangkan akan mendengar hal itu terjadi kepada temannya sendiri.
Satu pesan WA masuk dari Lala. Lala meminta Tara untuk merahasiakan apa yang dialaminya dari teman-temannya yang lain. Tara setuju dan mendukung Lala. Tara paham sulit untuk menghadapi orang banyak dengan pertanyaan yang kita sendiri gak bisa kontrol situasinya.
Setidaknya Tara masih menjadi yang dipilih oleh Mas Rio. Tidak di buang begitu saja seperti yang dialami Tara dengan mantan pacarnya.
Bunyi alarm memecahkan lamunan Tara. Alarm pengingat kalau besok laporan bulanan sudah harus dikirim ke bagian keuangan. Tara bergegas bersih-bersih. Mandi dan mengganti pakaiannya. Lalu ke dapur membuat secangkir kopi untuk menemaninya begadang membuat laporan malam ini.
"Belum tidur?" tanya Ibu yang keluar mau mengecek semua pintu rumah.
"Belum, Bu. Ada kerjaan dikit," jawab Tara sambil mengaduk kopinya.
"Mau makan?" tawar ibunya.
"Gak Bu, sudah tadi makan. Jangan ditawari makan malam melulu, Bu. Nanti badanku bisa makin melar," kata Tata tersenyum.
"Olahraga makanya." Ledek ibunya.
Setelah mengecek pintu dan jendela, ibu mematikan lampu. Tara sudah lebih dulu masuk ke kamar mengerjakan laporannya. Suara ketikan laptop mengisi keheningan. Aroma kopi mengisi seisi ruangan. Hampir setiap akhir bulan Tara begadang mengerjakan laporan. Tak pernah terlambat mengirimkan laporan membuat Tara selalu mendapatkan bonus kinerja dari perusahaannya.
Di sela-sela mengerjakan laporan, Tara sambil scroll sosmed. Tak sengaja Tara melihat konten yang membahas tentang perselingkuhan. Lalu Tara membaca kolom komentar yang memang selalu lebih menarik dibandingkan konten yang ada.
Di kolom komentar ada yang bilang kalau poligami hanyalah bentuk lain dari selingkuh. Intinya tetap sama-sama menduakan istri pertama. Cuma bedanya poligami dilakukan pernikahan siri. Komentar itu disematkan oleh pembuat konten dan di like lebih dari 17ribu akun instagram.
Tara menutup sosmednya dan melanjutkan kembali laporannya. Jam 12 lewat sedikit, kerjaan Tara selesai. Dirapikannya laptop dan berkas yang digunakan. Sekalian menyiapkan pakaian untuk kerja besok supaya tidak terburu-buru.
Baterai HP yang tinggal 20% dicas Tara. Usai membereskan semuanya. Tara tetap menyempatkan untuk membersihkan wajah, menggunakan serum, dan cream malam. Gelas kopi ia biarkan di atas meja. Mematikan lampu utama dan menghidupkan lampu tidur.
Tara membaca Ayat Kursi sebelum tidur. Lalu mengucapkan terimakasih kepada dirinya untuk aktivitas hari ini. Cara sederhana Tara untuk menghargai dirinya sendiri.
#spektakuler #penuliskeren #spektakulervol3 #eventnovel #teorikatapublishing
Komentar
Posting Komentar