Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 6 Berjuang Sendirian Itu Sakit
Udara pagi ini terasa sejuk, gerimis masih saja turun membuat suasana semakin sendu. Tara sedang ber siap-siap untuk ke kantor. Bangun lebih awal membuatnya bisa bersantai untuk berkemas, tak terburu-buru, dan masih bisa sarapan dulu sebelum berangkat.
"Pagi, Bu," sapa Tara sambil meletakkan tasnya di atas meja.
"Pagi, itu sarapannya sudah ada di bawah tudung."
"Iya, Ibu gak sarapan juga?" tanya Tara sambil memakan nasi goreng kari buatan ibunya.
"Ibu sudah sarapan tadi, kan mesti minum obat," jawab Ibu menegaskan.
"Asam urat Ibu kambuh?" tanya Tara panik.
"Iya, kaki Ibu terasa sakit. Kecapekan kayaknya ngurusin katring kemarin." jelas Ibu santai.
"Gak mau cari asisten saja, Bu?" tanya Tara menawarkan.
"Nanti saja Tar, kalau Ibu butuh pasti bilang ke kamu buat nyariin." jawab Ibu yang masih sibuk beres-beres dapur.
"Bu, berangkat ya. Assalamualaikum," Tara berpamitan setelah selesai sarapan.
"Waalaikumsalam, Hati-hati ya. Tolongin tutup pintunya ya, Tar." Pinta Ibu.
"Iya, jangan lupa dikunci ya, Bu." Tegas Tara.
Jalanan yang masih basah, tetesan hujan masih hinggap di daun-daun pohon. Perjalanan menuju kantor terasa amat sejuk, meski lalu lintas jadi makin padat. Meja kerja sudah menunggu Tara untuk tempur. Sebelum memulai kerjaan, Tara turun ke pantry membuat americano.
"Eh, tau gak sih itu si bos kemarin gua lihat di cafe sama cewek masih muda banget, bukan istrinya deh." Suara rekan kantor Tara yang lagi ngegosip.
"Anaknya kali," jawab Yuyu.
"Si bos kan anaknya laki-laki, gak mungkinkan pacar anaknya jalan dengan bapaknya." Mereka tertawa.
"Husssh.. Pagi-pagi sudah ngegosip." Ledek Tara sambil berjalan meninggalkan mereka.
Tara teringat dengan Lala yang lagi menghadapi situasi sulit. Tara membuka instagram untuk melihat update Lala. Di storynya Lala terlihat menjalankan aktivitas seperti biasanya. Lagi di kampus mengajar. Ada foto selfi Lala lagi di dalam mobil juga terlihat biasa saja tidak menunjukkan ada hal yang berat terjadi padanya. Tara menutup instagramnya dan memulai pekerjaan.
5 jam berlalu, jarum jam sudah menunjukkan pukul 13:00. Tara melewatkan jam makan siangnya. Tidak keluar kantor karena dia lagi order di gofood saja untuk makan siang. Cuaca sendu bikin malas gerak ke mana-mana untuk keluar. Sambil menunggu gofoodnya datang, Tara men scroll instagram. Dibuat kaget dengan story Sinta.
"Halo, assalamualaikum," Tara menjawab telepon dari Diana.
"Lo sudah lihat, Tar?" Diana nyerocos.
"Jawab dulu dalam aku, ih," kata Tara.
"Waalaikumsalam, lo udah lihatkan!" tanya Diana histeris.
"Iya, barusan lihat. Kaget sih aku," kata Tiara.
"Apa suaminya selingkuh ya?" tanya Diana.
"Gak ada dibilang gitu kan, Sinta cuma bilang bertahan buat mereka pakai foto anaknya." Analisa Tara.
"Iya sih, Sinta kenapa ya?" tanya Diana Penasaran.
"Entar kita tunggu saja Sinta cerita," jelas Tara.
"Ya sudah, gue lanjut kerja dulu ya." Diana menyelesaikan obrolan.
"Iya, jangan lupa makan, Na." Tara mengingatkan karena tahu sekali kalau Diana suka telat makan dan sering banget diopname.
Tara melihat status gofoodnya, sebentar lagi sudah mau sampai depan kantor. Tara turun ke bawah menunggu gofoodnya yang akan tiba. Pembayaran sudah dilakukannya via gopay. Setelah menerima pesanan, Tara singgah di musholla kantor untuk sholat zuhur baru naik lagi ke ruang kerjanya.
Sambil menyantap nasi goreng tom yum Solaria, pikiran Tara melalang buana. Sibuk sekali bergantian teringat Lala dan Sinta.
Dua temannya yang lagi menghadapi situasi sulit rumah tangga. Meski belum tahu pasti Sinta kenapa, filling Tara dia juga sedang menghadapi hal yang rumit.
Tiba-tiba Tara teringat tanggal hari ini 20 Februari. Ulang tahun pernikahan Sinta yang ke 5 tahun. Sinta usianya lebih tua setahun dari Tara. Tahun ini Sinta 29 tahun di Bulan Juni, Tara baru 28 tahun di bulan Oktober. Sinta juga menikah lebih cepat di usia 23 tahun, begitu selesai kuliah D3 akutansinya. Suaminya sekarang dia kenal di kantor tempatnya sempat magang sekaligus ternyata adalah partner bisnis ayahnya Sinta.
Happy wedding anniversary ya Sin.
Tara mengirimkan sebuah pesan WA ke Sinta. Pesan Tara hanya dibalas dengan emot senyum. Tara semakin yakin ada shomething.
Coffee shop yuk balik kantor. Tara mencoba mengajak Sinta ketemu barangkali dia mau cerita. WA Tara dibalas oke oleh Sinta.
Kantor mereka tidak berdekatan, ya jarak 1 km. Ada Coffee shop di antara ke duanya yang biasa jadi tempat mereka ketemu berduaan. Jam 17:30 Tara sudah tiba di Coffee Shop Menanti. Ice Americano sudah dipesan Tara sambil menunggu Sinta datang. 10 menit berlalu baru Sinta tiba.
"Sorry ya, Aku lama." Sinta meminta maaf.
"Iya, gak papa. Mau pesan apa?" tanya Tara.
"Biar aku saja." Sinta berjalan dan memesan hot chocolate.
Dari pesanan hot chocolate, Tara sudah makin yakin temannya sedang tidak baik-baik saja. Chocolate sangat membantu meningkatkan hormon endorfin dan serotonin yang akan membuat perasaan terasa lebih baik.
"Aku capek, Tar." Sinta membuka pembicaraan.
"Kenapa? Cerita saja kalau kamu siap." Tara memberikan simpatinya.
"5 tahun pernikahan, aku rasanya berjuang sendirian. Perasaan lonely itu makin ke sini makin berasa." Mata Sinta mulai berkaca-kaca.
"Sin, sabar ya. Aku cuma bisa bilang itu. Aku yakin kamu bisa melewati ini." Tara menguatkan.
"Awal menikah dia emang sudah cuek. Lebih sibuk dengan kerjaannya. Bahkan saat bersama denganku dia lebih memilih HP dan segala urusan kerjaan. Aku pikir setelah punya anak dia akan berubah. Tapi sampai anak kami dua dia tetap begitu. Dingin. Aku tidak menemukan tempat pulang." Sinta bercerita perlahan-lahan terdengar sekali dia berusaha menahan tangisnya.
"Sudah coba diobrolin berdua, Sin?" tanya Tara hati-hati.
"Sudah dan nothing. Menurut dia aku yang terlalu baper, lebai, gak paham situasi dia di tempat kerja. Setiap membahas apa yang aku rasakan cuma berujung ribut." Kali ini tangis Sinta pecah.
"Ya ampun, jadi kalian habis ribut?" tanya Tara sambil pindah tempat duduk ke samping Sinta.
"Iya dan kali ini anak-anak melihatnya." Sinta mengelap air matanya dengan tisu.
"Anak-anak sekarang gemana?" tanya Tara.
"Aku sudah kasih pengertian dan syukurnya mereka gak banyak tanya. Aku cuma takut kalau keterusan anak-anak melihat kami bertengkar. Aku takut berdampak buruk ke anak-anak ke depannya." Tangis Sinta sudah mereda.
"Terus kamu maunya gemana?" tanya Tara lagi.
"Aku berpikir untuk pisah," jawab Sinta emosi.
"Sin, aku belum menikah dan belum paham benar situasi yang kamu hadapi bagaimana. Tapi, aku cuma bisa bilang tahan dulu, anak-anak masih terlalu kecil. Selama ini anak-anak juga tahunya ayahnya ialah figur yang sempurna. Suamimu masih berusaha hadir buat anak-anakkan?" jelas Tara.
"Entahlah, aku juga tidak tahu sikap dia itu hadir atau tidak ke anak-anak. Beberapa kali dia sempat tidak memenuhi janjinya ke anak-anak karena urusan kerja. Sejauh ini anak-anak belum pernah mengatakan ayahnya jahat atau apalah." Sinta menjelaskan.
"Tidak mudah Sin untuk anak-anak memahami situasi jika kalian berpisah. Saran aku, mungkin lebih baik kamu sibukkan dirimu dan anak-anak. Jadi, kamu tidak terlalu peduli lagi mau dia hadir atau gak. Kamu gak kecewa lagi kalau dia tidak bisa ada buat kalian. Sekarang kamu begini karena berharapnya dia paham dan selalu ada buat kamu." Tara mencoba menyampaikan apa yang dia lihat.
"Iya sih, aku coba ya. Terimakasih ya Tar, kamu selalu ada buat kita." Sinta memeluk Tara.
Alunan lagu Raisa Si Paling Mahir sangat mewakili perasaan Sinta saat ini. Mereka menyeduh cangkir masing-masing sebelum akhirnya berpamitan untuk pulang. Tak terasa sudah magrib. Tara dan Sinta sholat dulu di musholla cafe baru pulang.
#spektakuler #penuliskeren #spektakulervol3 #eventnovel #teorikatapublishing
Komentar
Posting Komentar