Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 8 Nala Melangkah Serius
Setiba di rumah Ibu, Nala dan Tara duduk di ruangan TV sambil menonton. Ibu sudah lelah dan masuk ke kamar lebih dulu. Nala biasanya kerja di Bogor, cuma lagi libur weekend dan ketepatan tidak sibuk jadi balik ke Jakarta. Emang selalu dijadwalkan sekali sebulan buat melihat ibu.
"Kantor gemana, Kak?" tanya Nala membuka pembicaraan.
"Ya, gitu-gitu saja sih. Gak ada bos baru juga yang bisa jadi incaran." Canda Tara.
"Ya, sayang banget ya. Di kantorku banyak yang cocok buat Kakak ini." Goda Nala.
"Iya? Bolehlah, kita list." Mereka ketawa.
"Kak, aku mau ngomong serius." Nala mulai memasang sikap untuk obrolan yang serius.
"Serius banget. Ya, sudah. Mau bahas apa?" tanya Tara.
"Soal Tio, Kak." Tara sudah langsung paham ke mana arah pembicaraan ini akan berlangsung.
"Kenapa si Tio? Mau melamar?" Tara langsung menodong Nala.
"Gemana menurut, Kakak? Aku bingung mau jawab apa, Kak." Terlihat sekali Nala merasa tidak enak dengan kakaknya.
"Kapan, kapan?" Tara bertanya antusias.
"Kakak gak papa?" Nala balik bertanya dengan hati-hati.
"Nala adikku sayang, Kakak gak papa. Kakak senang kalau Nala sudah menemukan pelabuhan yang tepat." Jelas Tara.
"Kak, beneran?" Nala meyakinkan dirinya.
"Iya, kapan Tio mau datang sama keluarganya?" Nala meyakinkan adiknya.
"Nanti aku tanya lagi, Kak. Penting aku sudah dapat restu Kakak." Nala memeluk Tara.
"Kakak selalu mensupport kamu, Dek." Tara memeluk Nala.
Tara tak pernah merasa keberatan sejak awal dia sudah tahu kalau Nala dan Tio memang sudah punya komitmen untuk saling serius. Tara juga tak pernah merasa iri atas keberuntungan adiknya dalam hubungan. Tara justru selalu ingin memastikan bahwa adiknya tidak merasakan apa yang dia rasakan.
Patah hati itu menyakitkan dan sulit untuk bisa melupakan kepahitannya. Tara juga tahu hari ini akan tiba. Nala tentu punya tracknya sendiri yang tidak mungkin menunggu dirinya. Tahun ini Nala sudah 25 tahun. Umur yang sama saat Tara memulai keseriusan, hanya saja takdirnya ia bukan berujung di pelatihan tapi ditinggalkan dengan segala luka yang sampai kini tidak tersembuhkan.
"Yuk, tidur sudah ngantukkan." Ajak Tara.
"Iya nih, Kak." Nala bangkit dari sofa dan merekan berjalan ke kamar masing-masing.
Suara denting jam terdengar berirama mengisi keheningan malam. Mata Tara masing menatap kosong langit-langit kamarnya. Pikirannya penuh tak karuan. Tara akan menghadapi situasi yang akhirnya tiba juga.
Dilangkahi adiknya menikah. Situasi peliknya ialah menjawab pertanyaan keluar ibunya yang datang dari Sumatera, apa lagi nenek buyutnya. Ibu pasti akan semakin disudutkan dengan berbagai topik gak penting.
Setelah ayah menikah, Ibu sudah diminta untuk balik ke Sumatera. Tinggal di Bukit Tinggi bersama keluarga besarnya. Tapi Ibu yang sedari dulu sudah tidak mengikuti petatah-petitih minang ini tidak peduli dengan apa yang dikatakan. Ketika Ibu memilih menikah dengan ayah yang orang betawi, di situ Ibu sudah memutuskan akan melanjutkan hidupnya seterusnya di Jakarta.
"Ibu tidak ingin jauh dari ayahmu," jawab ibu saat Tara bertanya kenapa dia tidak menuruti maunya nenek buyut.
Bukan hanya Ibu, Tara, dan Nala pun tidak mau meninggalkan Jakarta. Ada banyak kenangan masa kecil di Jakarta. Kenangan bersama ayahnya yang tidak akan pernah tergantikan dengan keindahan kota mana pun. Banyak hal terlintas di kepala Tara. Sampai akhirnya ia tertidur sendiri.
"Pagi, Bu," Sapa Nala ke ibu yang sudah sibuk di dapur dengan katringnya.
"Pagi, dek," jawab ibu tanpa menoleh.
"Ada pesanan, Bu?" tanya Nala sambil mulai membantu ibunya.
"Iya, di Jalan Setia Budi jam 10 ini sudah di lokasi. Kakakmu, tumben bangunnya lama." Ibu menanyakan Tara.
"Capek mungkin, Bu. Biarinlah, hari Minggu juga kan." Jelas Nala.
Nala membantu ibu packing katringnya yang sudah hampir selesai. Karyawan ibu sudah menganggur memasukkannya ke dalam mobil katring. Ibu cuma ada dua karyawan buat antar kantring. Kadang mereka juga ikut bantuin ibu packing. Tara baru keluar dari kamar saat katring ibu sudah beres dan menuju lokasi.
"Ibu, mana Nal?" tanya Tara dengan muka sembabnya.
"Lagi mandi, Kak. Kakak mandi ih, gak enak banget itu muka." Nala ketawa.
"Ibu gak bikin sarapan?" tanya Tara.
"Ibu tadi lagi ribet menyiapkan pesana katring. Kakak mandi gih, biar kita makan di luar bareng Ibu. Aku kan udah mau balik ke Bogor siang ini kak." Jelas Nala.
"Oh yaya. Kakak mandi dulu ya." Tara berjalan ke kamarnya.
"Cepetan ya, Kak." Pinta Nala.
Siang ini Ibu, Tara, dan Nala pergi makan ke rumah makan favorite ayah. Rumah Makan Pasundan. Ayah mereka suka sekali dengan pepes tahu di sini. Menu favorite mereka Pecak Gurami. Makan di sini bikin rindu mereka ke ayah tu bisa sedikit terbayar.
"Assalamu'alaikum, Abang jadi ke sini kan?" Nala menelepon Raka.
"Waalaikumsalam, maaf ya Nala Kak Fina lagi demam. Gak bisa ninggalin Kakak sama ponakan kamu ini." Raka meminta maaf.
"Oalah, ya sudah kalau begitu. Cepat sembuh ya." Doa Nala untuk kakak iparnya.
"Sampaikan maaf ke Ibu dan Tara ya." Raka minta tolong ke Nala.
"Siap Bang. Assalamu'alaikum." Nala menutup telepon.
Tak lama aroma Pecak Guraminya sudah terhidang di atas meja. Lengkap dengan pepes tahu kesukaan ayah. Tara memesan lemon tea, Nala memesan es teler, dan Ibu air putih hangat. Mereka menyantap hidangan dengan lahap sambil mengenang masa-masa makan di sini bersama ayah.
"Biar Ibu sama Tara pulang naik Gocar saja, Dek." Pinta Ibu.
"Gak papa Bu, Nala antarin saja. Aman kok masih jam segini," jawab Nala.
Meri Sofiana, nama Ibu yang 35 tahun lalu menikah dengan Herman Subroto. Raka anak pertama yang lahir satu tahun setelah pernikahan mereka. Tara lahir 2 tahun kemudian. Jarak Tara ke Nala yang 5 tahun karena saat itu ibu tidak lagi ingin menambah anak.
Ibu hanya tamat SMA lalu merantau ke Jakarta ikut oomnya jualan di Tanah Abang. Di sanalah ibu bertemu dengan ayah. Ayah sedang belanja mencari tas sekolahan anak-anak untuk disumbangkan ke Panti Asuhan. Jadi, mereka jatuh cinta di pandangan pertama.
Kisah cinta yang rumit. Ayah seorang Sarjana Ekonomi, sedangkan ibu hanya tamatan SMA. Tapi ibu beruntung, mertuanya tidak pernah memandang kasta. Dia menerima ibu dengan tulus. Itulah kenapa ibu juga me jadi mertua yang baik.
Cuma yang menentang hubungan ibu adalah nenek. Keluarga ibu maunya ibu menikah dengan orang minang juga. Bagi mereka menikah dengan orang luar itu seperti sebuah kegagalan. Tapi ibu memang keras kepala dan tetap pada pilihannya.
Oom yang menjadi tempat dia bekerja tidak melarang ibu karena dia pun tidak menikah dengan orang minang.
"Hati-hati di jalan ya, Nala," ucap Tara dan Ibu bersaman.
Nala berangkat langsung ke Bogor setelah mengantarkan Ibu dan Tara.
#spektakuler #penuliskeren #spektakulervol3 #eventnovel #teorikatapublishing
Komentar
Posting Komentar