Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 7 Tak Ada yang Sempurna

Luka datang dari hal yang tak diduga. Kadang sehebat apa pun kita berencana untuk terhindar dari sakit hati, tetap saja tak bisa mengontrol apa yang di luar kendali. Di dunia yang selalu menganggap apa yang terlihat adalah kenyataannya sering kali membuat kita tertipu. 

Saat otak menilai sebuah kehidupan yang sempurna, kenyataannya hanya menunggu waktu untuk melihat segalanya dengan jelas. 

Di sudut kamar Nia terisak. Mencoba menenangkan diri dari hal yang tak bisa ia kontrol, sikap mertuanya. Setiap kali ada konflik antara ia dengan mertuanya, suaminya tak pernah menunjukkan sikap untuk melindungi Nia. Biasa bagi Nia menghadapo omongan mertuanya, tapi saat suaminya yang bersikap tidak enak itu membuat Nia sangat terluka. 

"Kamu ngapain saja di rumah?" tanya suaminya saat melihat rumah sedang berantakan sepulang kerja. 
"Belum sempat, Aa. Tadi Aira agak rewel gak mau ditinggal," jelas Nia. 

Boro-boro ditanya kenapa, mengapa, suaminya malah mengatakan, "Kamu gak setelaten ibuku." Pernyataan yang bikin adrenalin meningkatkanmeningkatkan karena menahan amarah. 

Nia tidak menjawab. Dia hanya diam dan memilih melakukan pekerjaan yang bisa dilakukan, meninggalkan suaminya. Ibu mertuanya emang seresek itu. Suka sekali mengatakan ke suaminya Aryo, istrimu itu mesti belajar lebih cekatan beberes rumah atau dia akan bilang makanya istrimu jangan dimanja. 

Hubungan pernikahan mereka sebenarnya aman tanpa masalah. Ekonomi lancar meski yang bekerja hanya Aryo. Nia juga bukan istri yang suka belanja barang-barang branded. Meski beberes rumah tidak terlalu sat-set, Nia hobi masak. Hampir setiap hari masak dan jarang sekali mereka makan di luar. 

"Assalamualaikum," jawab Nia saat ditelepon ibu mertuanya. 
"Waalaikumsalam," jawab ibu mertuanya. 
"Ada apa, Bu?" tanya Nia. 
"Ibu mau bilang, Minggu depan kalian ke Bandung ya. Ada acara keluarga semuanya kumpul. Jangan terlambat." Pinta ibunya. 
"Insya allah, Bu," jawab Nia. 

Ibu mertuanya memang selalu menelepon ke Nia untuk meminta pulang karena Aryo setiap kali dipinta selalu menjawab ditanyain ke istrinya dulu bisa atau tidak. 

Nia memang selalu memilih untuk menghindari hadir di acara keluarganya Rio. Bukan tidak suka, lebih ke menjaga dirinya agar tidak tersinggung dengan berbagai sindiran nantinya. 

Aa, itu ibu tadi nelepon. 
Nia mengirimkan pesan WA. 

Iya, mau kan ke Bandung? Gak lama. Paling kita nanti sampai malam saja terus nanti kita nginap di hotel saja. 
Balas Aryo memujuk Nia. 

Tidak ada pernikahan yang sempurna. Setiap pasangan menjalankan skenario yang diberikan Tuhan. Nia dan Aryo diuji dengan adanya orang ketiga dari ibunya Aryo. Nia harus menghadapi mertua yang suka sekali ikut campur urusan rumahtangga anaknya. Terakhir kali bertemu Nia tersinggung karena ibu mertuanya. 

"Dulu pernah bekerja, tapi sekarang hanya ibu rumah tangga," jawab Ibu mertuanya kepada tamu yang datang ke rumahnya. 
Nia yang mendengar saat itu hanya menunduk. Seakan menjadi ibu rumah tangga adalah hal yang buruk dan tidak ada yang perlu dibanggakan. 
"Boleh gak, kali ini kamu saja Aa yang ke Bandung. Aku di rumah saja." Nia meminta dengan nada lembut. 

"Lah, kenapa? Ibu mengundang kamu jugakan?" Aryo menegaskan. 
"Iya, aku sedang tidak ingin ke sana. Kejadian yang lalu saja masih berbekas," jelas Nia. 
"Terserah deh," jawab Aryo dengan nada ketus. 

Nia tahu Aryo marah, tapi dia memang sedang tidak ingin membuang energi bertemu dengan mertuanya. Apa lagi kali ini bukan acara yang penting. Cuma arisan bulanan ibunya saja. Ibu mertua memang selalu apa-apa itu menelepon Aa Aryo karena dia satu-satunya anak laki-laki dan penurut. 

Pagi harinya Aryo sudah bersiap. Nia menyiapkan sarapan di meja makan. Nia tetap pada keputusannya tidak ingin ikut. Aira masih tidur di kamarnya. Kalau ikut berangkat Nia pasti sudah membereskan Aira supaya tidak kesiangan sampai di Bandungnya. 

"Jadi, aku sendiri?" tanya Aryo. 
"Iya, gpp ya Aa. Kali ini kamu sendirian. Kasih alasan apa kek ke Ibu. Bilang Aira kurang enak badan atau apa gitu," pinta Nia. 

Setelah sarapan nasi goreng yang dibuat Nia. Aryo berangkat ke Bandung. Nia merasa lega kali ini tidak perlu bertemu Ibu mertuanya. Setidaknya aman tidak tersulut amarah dan tidak merusak moodnya di weekend. 

"Bun, kita kenapa gak ikut sama ayah?" tanya Aira saat makan siang berdua. 
"Bunda lagi kurang fit buat perjalanan, nak. Gak papa ya kita di rumah saja mainnya." Jelas Nia. 
"Oke, Bun," jawab Aira. 

Nia tidak membenci mertuanya. Dia cuma memilih menjaga jarak saja ketimbang sakit hatinya bertambah dan menumpuk. Nia tahu di Bandung nanti pasti Aryo akan jadi milik ibuknya, apa-apa pasti Aryo. Dari pada Nia merasa diabaikan lebih baik tidak perlu ikut. 

Rumah Nia lokasinya tidak jauh dari Tara. Masih sama-sama Jaksel. Mumpung Nia lagi stay di rumah dan Aryo juga tidak ada. Nia mengabari Tara untuk main ke rumahnya. 

Tar, ke rumah sini, main. Aa Aryo lagi gak ada. 
Nia mengirimkan pesan WA ke Tara. 

Sorri, hari ini aku gak bisa. Sudah janjian mau jalan sama ibu dan adikku. Kamu tidak keluar kota?
Balas Tara menanyakan kembali keberadaan Nia. 

Nia memberitahu bahwa dirinya gak ikut lagi malas ikutan sama Aa Aryo. Nia belum ada menceritakan di balik romantisme hubungan rumah tangga mereka tetap saja ada capsnya, meski tidak berasal dari suami istri, maka bisa jadi dengan mertuanya. Pihak ketiga yang kerap tidak terlihat dan tidak diwaspadai. 

"Siapakah yang WA?" tanya Nala. 
"Temanku, Nia. Tumben dia di rumah weekend. Biasanya dia pasti pergi sama suaminya," jelas Tara. 
"Gak haruslah kak sama suami terus. Mungkin lagi berantem atau emang lagi malas saja," kata Nala sok tahu. 
"Iya deh, yang bentar lagi menuju pernikahan. Paham banget sudah ya?" Ledek Tara. 

Nala hanya tertawa saja tak pernah tersinggung dengan kakaknya, pun sebaliknya. Kedua kakak beradik yang akur sekali. 
"Ibu bagusnya pakai yang mana bagus, ya?" tanya Ibunya. 
"Jilbab warna krem ini saja, lebih mathcing,"  jawab Tara. 

Sebulan sekali Tara memang pergi bersama ibu dan adiknya. Masnya jarang sekali bisa ikutan. Jadwal bulanan mereka biasanya ya pergi makan sambil ngopi. Ibunya meski sudah berumur jiwanya tetap tidak menua. Biasanya saat pergi makan disitulah mereka bercerita rundom. 

Warna cokelat pastel, warna lampu yang terlihat dari kaca tertata indah. Aroma coffee semerbak mengisi ruangan cafe. Tempat nongkrongnya anak hits Jakarta. 

"Jadi, gemana Kak?"  tanya ibu saat menunggu pesanan datang. 
"Belum ada, Bu." Tara menjawab pendek. 
"Kakak mau menunggu apa?" tanya Nala. 
"Bukan mau mengulur waktu, La." jawab Tara pelan. 
"Kakak punya teman cowok?" tanya Lala kepoo. Tara diam saja. 
"Do'ain saja kapan waktu yang tepatnya." jawab Tara. 

Obrolan mereka terputus saat pesanan sudah datang. Mie lodeh yang terlihat pedas gurihnya. Sepiring salad sayur pesanan Ibu yang menggiurkan dengan dressingnya. Parata canai kuah kari pesanan Tara yang jadi favorite setiap datang ke Cafe Enaknye. Tak lupa Nala meminta pelayan cafe untuk mengambil foto mereka. 

Pembicaraan soal kapan menikah selalu saja diselipkan di tengah-tengah quality time mereka. Tara sudah memaklumi pertanyaan itu dan bisa santai menghadapinya. 

#spektakuler #penuliskeren #spektakulervol3 #eventnovel #teorikatapublishing


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Serunya Series Balas Dendam Istri yang Tak Dianggap

Lumpur dan Air Mata: Kondisi Ekologis yang Guncang Sumatera

Mimpi Perempuan yang Menikah #Bab 1 Menunggu Dikirim Tuhan